Selasa, 08 Januari 2013

Patriotisme Sisingamangaraja XII


Sisingamangaraja XII menjadi raja saat berusia 19 tahun, pada waktu itu seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak. Tahun 1837, kolonialis Belanda memadamkan “Perang Paderi”  dan mencaplok daerah Batak sehingga Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda dan yang belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka. Namun kian lama Belanda semakin maju merebut daerah Batak yang merdeka. Raja Sisingamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi dan mengambil keputusan untuk ber perang terhadap Belanda , menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda , namun Zending Agama tidak diganggu.Beliau menentang Belanda namun tidak anti Agama.
Tahun 1877, mulailah perang Batak yang berlangsung 30 tahun. Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan Raja Sisingamangaraja XII namun mendapat perlawanan dan berhasil dipukul mundur. Belanda merubah taktik, ia menyerbu kantong logistik Sisingamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara. Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda.Belanda mendatangkan pasukan dari Batavia (Jakarta sekarang), mendarat di Pantai Sibolga juga dari Padang Sidempuan.
Pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.Raja makin terdesak apalagi pada waktu itu terjadi letusan Gunung Krakatau . Sisingamangaraja XII berusaha melakukan konsolidasi memperluas front perlawanan. Beliau berkunjung ke Asahan, Tanah Karo dan Simalungun, tetapi Belanda terus mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Fort De Kok, Sibolga dan Aceh. Barisan Marsuse juga didatangkan bahkan para tawanan dari Jawa untuk menjadi umpan peluru dan tameng pasukan Belanda . Bahkan regu pencari jejak dari Senegal (Afrika), juga didatangkan untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII.
Tahun 1907, pasukan Belanda mengepung Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Boru Sagala,( Isteri Sisingamangaraja XII) , putra-putrinya, dan Ibunda Sisingamangaraja XII ditangkap pasukan Belanda, juga Raja Buntal dan Pangkilim Boru Situmorang . Sedangkan Sisingamangaraja XII sendiri gugur oleh peluru Marsuse Belanda di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang 17 Juni 1907.Sebelum Beliau gugur, pernah penjajah Belanda menawarkan untuk dijadikan Raja Tanah Batak dan berdamai Asal saja bersedia takluk kepada kekuasaan Belanda. Patriotismenya digoda berat tapi Raja Sisingamangaraja XII tegas menolak. Ia berpendirian, lebih baik berkalang tanah daripada hidup di peraduan penjajah.Tiga puluh delapan tahun kemudian, penjajah betul-betul angkat kaki dari Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Sukarno-Hatta. semangat patriotismenya, jiwa pengabdian dan pengorbanannya yang sangat luhur serta pelayanannya kepada rakyat yang sangat agung, kecintaannya kepada Bangsa dan Tanah Airnya serta kepada kemerdekaan yang begitu besar, perlu diwariskan kepada generasi penerus bangsa Indonesia.
            Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Sisingamangaraja XII selama 30 tahun, selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara.Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Sisingamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda.Sisingamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi.Pada tahun 1979, dibangun monumen Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di kota Medan yang diresmikan oleh Presiden umtuk menghormati jasanya dan diberi gelar pahlawan nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar